Selasa, 30 September 2014

022014. KAMPUNG BUAH DURIAN :



Tahun tujuh puluh dua saya ke daerah Tebing Tinggi Lahat Sumatra Selatan, pertengahan antara kota Lahat dan Lubuk Linggau, ada jalur darat tras Sumatra, jalur kereta api Palembang Lubuk Linggau. Bekas kota Kewedanaan kotanya lebih ramai ada toko-toko orang cina, saya tinggal di bekas Hotel Anda yang punya orang cina, namanya Pak Zondag Cia isterinya cina Batu Raja namanya cik Erti. Disini tidak banyak buah-buahan, yang banyak getah balem rakyat, getah karet yang dibekukan, hitam kotor dan bau comberan, berbeda jauh dengan getah karet di perkebunan karet Cisaga Banjar yang perusahaan  Perancis, getah yang sudah dibekukan putih bersih kayak tahu cina, karena dicetak dalam bak aluminium, memang ada bau khasnya.
 

Dipasar banyak dijual buah seperti salak tapi bukan, ini buah rotan, yang besar-besar buah manau, ada yang kecil-kecil buah luwi namanya, rasanya sama asem-asem sepet, dimakannya sama kecap cabe rawit dan garan, serasa rujak begitu. Senja hari di musim kemarau langit diatas kota Tebing Tinggi dipenuhi kelelawar buaanyak, itu tandonyo nak musim besa buah derian, kata cek Denca pedagang pek-pek keturunan Palembang. Bunga buah durian mekar di malam hari, yang menyerbuki binatang malamlah, makin banyak bunga yang mekar, semakin penuh langit senja di kota Tebing Tinggi oleh kelelawar.
 

Tidak tahu dari mana mulainya tapi dipasar kulu sudah ada yang jual buah durian, saya beli dan memang enak, durian jatohan betul-betul, murah lagi. Makin hari durian dipasar makin banyak, tiap hari makan durian, tetangga depan rumah, cek Man, pengusaha expedisi kereta api, sekarang menjadi bandar durian, didepan rumahnya durian menggunung, tiap hari memberangkatkan truk penuh durian ke Palembang.
Varitas buah durian di Tebing Tinggi lebih banyak dan lebih besar-besar, terutama kalau sudah turun buah durian dari gunung.
 

Diskripsi buah Durian berdasar table check list ( Durian mania ) :
Tening Tinggi SUMSEL./1,2,3/4/7,8/10,12/15/16/18,19,20,21
/22,23/25,26 ,27/29,30,31/33,34,35/37,38,39/41,42/43,44/46,47,48.
Legitasi.KW.2.
 

Aini sini makan derian, pangil anak perempuannya, Aini itu nama isteri saya. Saya dan isteri turun dari rumah tinggi untuk makan durian, dalam satu hari tak kurang dari dua belas truk yang berangkat ke Palembang penuh durian, kata cek Man. Buah durian sisa sortiran dibelah dan dikelepeti dagingnya untuk dibuat lempok, sampai sekarang lempok durian yang terkenal di Palembang ya lempok Tebing Tinggi ini. Daging buah durian sisa sortiran untuk lempok, yang kurang manis rasanya, disisihkan disusun berlapis-lapis dalam tabung gelas bekas botol cuka besar ( di Cianjur dibuat tempat asinan buah ), tiap lapisan ditaburi garam dan cabai, disimpan agar terpermentasi, setelah matang bernama tempoyak.
 

Suatu hari cik Erti manggil dari bawah,  de Nur sini,  de Nur panggilan cik Erti untuk isteri saya, kamipun turun, rupanya dimeja sudah dihidangkan makanan, ini papahnya Adi baru ngejalo dapat ikan Seluang banyaaak, musim kemarau air sungai Batang Hari kecil dan musim ikan Seluang. Ikan Seluang pepes dimakan dengan sambal gandaria, aah, pedas-pedas asem gurih, ini apa yang lengket kuning di ikan Seluang cik,  saya bertanya,  yaaah itu yang name tempoyaaak, enak yah, iyalaaaah.



Sobari1sobar@gmail.com
Paartikeliir di Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar